Dengarkan! Latih Anak Sungguh-Sungguh Hirau

23/04/2009 at 7:30 pm Tinggalkan komentar

By Republika Newsroom

Kamis, 05 Maret 2009 pukul 19:22:00


investigasi

PERINGATKAN: Memberi peringatan dan konsekuensi kepada anak, melatih mereka berpikir dan bertanggung jawab dalam setiap tindakan JAKARTA – Tak mau mendengarkan, atau cuek, adalah salah satu perhatian utama yang diungkapkan para orang tua saat ini terhadap anak-anak balita dan anak-anak usia sekolah.

Orang tua sering kali berkomentar mereka harus mengulang permintaan beberapa kali atau meninggikan suara demi mendapat perhatian anak-anak. Padahal sedikit perubahan dalam cara orang tua mengontrol perilaku anak-anak mereka dapat membuat perubahan besar. Salah satu yang disarankan oleh Thomas M. Reimers, ahli tumbuh kembang anak dan masalah keluarga dari Amerika Serikat (AS) ialah menggunakan analogi lampu hijau, merah, dan kuning lalu-lintas dengan tepat untuk menegaskan aturan maupun mengantarkan pesan kepada anak-anak anda.

Apakah itu lampu kuning atau merah? Orang tua, andalah pengantar pesan–pengatur lampu lalu-lintas bagi anak-anak anda. Lampu lalu-lintas sesungguhnya di jalan dapat diprediksi dengan tepat dari hijau, ke kuning, lalu merah. Bayangkan jika lampu lalu lintas berubah secara acak. Anda tidak akan pernah tahu kapan waktunya berhenti atau berjalan. Begitupula sebaiknya orang tua, semakin tanda anda terprediksi oleh anak, maka perilaku anak pun dapat semakin terkendali. Ketika lampu anda menyala hijau, anak-anak dapat bermain dan melakukan urusan mereka. Namun lampu anda akan berubah kuning ketika anda mulai menyampaikan permintaan. Jika anak anda tidak mendengar  atau mempedulikan, maka nyalakan lampu merah, peringatan atau konsekuensi yang segera datang bila anak terus mengabaikan. “Jika kamu tidak melakukan ini….itu yang akan terjadi,” Semakin sikap anda konsisten dan terprediksi terhadap anak-anak yang tidak hirau dengan diikuti konsekuensi negatif, atau sikap peduli diikuti tindakan apresiasi positif, maka perilaku anak sebenarnya akan lebih peduli, hirau, dan terkendali. Anak-anak sangat menyukai waktu bersenang-senang dan ingin melakukan terus. Sekali orang tua meminta mereka untuk mengakhiri itu–atau yang dianggap anak mencegah mereka dari bersenang-senang–respon anak mungkin memiliki rentang dari merengek, protes, hingga melakukan aksi tantrum. Jika anak tahu perilaku rengekan mereka dapat mengubah ”nyala lampu” orang tua, mereka akan terus menggunakan itu untuk mendapat apa yang mereka mau, hingga tak upaya itu tak lagi berhasil. Disinilah konsistensi orang tua diperlukan, agar anak mengerti betapa seriusnya perkataan orang tua. Hijau ke Kuning ke Merah Ketika lampu lalu-lintas bekerja dengan benar, waktu perpindahan dari nyala hijau ke kuning ke merah bisa diprediksi dengan baik. Jika anak melihat orang tua mereka bisa dipegang, dan konsisten, mereka tahu nyala lampu orang tua akan juga dipahami berubah dari hijau, artinya bebas, menjadi kuning ”sebuah instruksi muncul” hingga merah alias ” jatuhnya konsekuensi”. Ini akan melatih anak-anak memutuskan kapan mereka dapat berhenti atau terus karena mereka sadar pilihan mereka pun mengarah pada konsekuensi yang terprediksi pula dari orang tua konsisten. Lampu Menyala Kuning Terus Beberapa orang tua kadang membuat berbagai permintaan, instruksi, atau bahkan ancaman diikuti ole berbagai peringatan, dengan konsekuensi yang sering kali tak terprediksi alias terlambat atau tidak pernah sama sekali. Sekali anak mengetahui jika ‘nyala lampu’ orang tua menyala kuning untuk periode lama, dan mungkin tak pernah berubah merah, maka mereka tak punya alasan untuk berhenti Sikap tak tentu orang tua, mendorong anak menghiraukan orang tua atau menjadi pembantah. Orang tua yang akhirnya terlanjur kepentok dengan “lampu kuning” sering kali frustasi dan meledak, menjatuhkan konsekuensi yang lebih bersifat menghukum daripada seharusnya. Sementara perilaku negatif anak meningkat dengan harapan dapat mengubah pendirian orang tua mereka. Jika anda menerapkan konsekuensi berkepanjangan yang tidak dapat anda pantau, seperti melarang anak tak berkativitas selain sekolah dan rumah berminggu-minggu, tanpa tindakan lebih lanjut, justru akan mengajarkan anak anda jika orang tua tidak benar-benar serius dengan ucapannya. Hijau ke Merah Ini yang perlu diwaspadai orang tua. Kadang orang tua membawa sikap otoritas–dapat diprediksi–hanya saja terlalu jauh. Melompat langsung pada hukuman, sikap ini dapat menyebabkan perilaku negatif anak menurun tapi secara temporer. Bagaimanapun, anak sering kali merespon karena ketakutan dan itu menyebabkan muncul perasaan tidak adil. Anak pun harus mendapat kesempatan untuk didengar oleh orang tua. Memberi peringatan sangat membantu anak kesempatan berpikir terhadap keputusan apa yang akan mereka ambil, sebab mereka tahu konsekuensi spesifik apa yang akan diterima di setiap sikap yang mereka lakukan. Sikap orang tua pun akan membantu anak untuk mendengarkan orang tua, hingga kemudian berpikir dan bertindak dengan tanggung jawab, tentu itu tidak bisa didapat jika orang tua bersikap dengan tak tentu arah./itz

Entry filed under: Pendidikan Anak. Tags: , , , .

Golkar Enggan Terpancing ‘Dramatisasi’ Partai Lain Madonna Terluka Setelah Jatuh dari Kuda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Translater

Kalender

April 2009
S S R K J S M
    Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Arsip

Waktu Sekarang

Ranking Blog

Peta Pengunjung


%d blogger menyukai ini: