Flu Singapura Dapat Dicegah

23/04/2009 at 6:34 pm Tinggalkan komentar

By Republika Newsroom

Selasa, 21 April 2009 pukul 13:52:00

JAKARTA – Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Depkes Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P, MARS, mengatakan, Flu Singapura bukan merupakan penyakit yang berat. Pengobatannya pun, menurut dia, hanya simtomatik dan mengkonsumsi makanan yang cukup protein dan kalori. “Dan, dapat sembuh dalam 7-10 hari,” terang. Dia menerangkan, di dunia kedokteran tidak ada istilah “Flu Singapura”. “Ini adalah Penyakit Tangan Kaki dan Mulut (PTKM) atau Hand Foot Mouth Disease (HFMD) yang disebabkan oleh virus,” jelasnya. Penyakit ini, kata dia, sering ditemui pada anak dan bayi dan bukan merupakan penyakit baru. Masa inkubasinya 3-7 hari. PTKM menular melalui kontak langsung cairan hidung dan tenggorok, saliva, cairan dari blister atau tinja pasien.

Masa penularan terbesar adalah pada minggu pertama sakit. Tjandra mengimbau masyarakat dihimbau untuk bersikap waspada. “Tidak ada pencegahan khusus untuk PTKM, risiko tertular dapat diturunkan dengan menjalankan Pola Hidup Bersih dan Sehat,” terang Tjandra Yoga melalui rilis surat elektronik  yang diterima Republika, Selasa (21/4). Masyarakat, kata Tjandra, dapat melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan dengan meningkatkan kebersihan perorangan, seperti cuci tangan dengan sabun, menutup mulut dan hidung bila batuk dan bersin.

Selain itu, tidak menggunakan secara bersama-sama alat-alat rumah tangga seperti cangkir, sendok, garpu dan alat kebersihan pribadi yaitu handuk, lap muka, sikat gigi dan pakaian, terutama sepatu dan kaus kaki.

Tanda-tanda

Prof. Tjandra menambahkan, penyakit PTKM memiliki tanda-tanda seperti demam, kemerahan dan pelepuhan di telapak kaki, tangan dan kulit bagian dalam rongga mulut, tidak nafsu makan, lesu dan nyeri tenggorok. “Satu-dua hari setelah demam, timbul keluhan nyeri di mulut dimulai dari melepuh sampai kemudian dapat menjadi berlendir. Keadaan tersebut dapat terjadi di lidah, gusi dan bagian dalam mulut lain,” tambahnya.

Dia menngingatkan, jika ditemukan tanda-tanda yang membahayakan penderita, seperti gejala neurologi, muntah berulang, sesak nafas, dan halusinasi, pasien harus segera dirujuk ke rumah sakit terdekat. “Secara umum, kalau anak demam selama 2-3 hari juga sebaiknya dikonsultasikan ke petugas kesehatan terdekat,” kata  Tjandra. Kepala Pusat Komunikasi Publik Depkes Dr. Lily S. Sulistyowati, menjelaskan, penyebab PTKM umumnya adalah enterovirus (EV), termasuk coxsackievirus A16, EV 71 dan echovirus. “Namun, sangat jarang PTKM disebabkan oleh EV 71,” tambahnya. Adapun, sambung dia, PTKM yang diakibatkan oleh EV71 juga dapat menyebabkan meningitis dan bahkan encephalitis, seperti yang terjadi di Malaysia pada tahun 1997, Taiwan di tahun 1998 dan China tahun 2008. –c89/ahi JAKARTA- Setelah kasus demam berdarah dengue (DBD), kini warga yang tinggal di wilayah Jakarta dan Depok kembali dihebohkan dengan munculnya penyakit “flu singapura”. Gejala yang muncul tidak jauh brbeda dengan flu biasa yakni demam dan disertai sariawan dalam rongga mulut, tenggorokan meradang, dan muncul bercak-bercak hingga cacar air di kaki, telapak tangan, serta telapak kaki. “Data dari Dinas Kesehatan DKI menyebutkan, pada Februari terhadap dua kasus flu singapura. Pada bulan Maret juga terdapat dua kasus penyakit serupa. Tapi, pada April sampai Rabu ini belum ada laporan kasus itu,” papar Asisten Kesejahteraan Masyarakat (Askesmas) Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Effendi usai menghadiri pemaparan hasil survei YLKI dan Fakta mengenai Pelanggaran Kawasan Dilarang Merokok di berbagai kantor pemerintah di DKI, di Jakarta Media Center (JMC), Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Rabu (15/4). Dalam catatan Kompas, flu Singapura pernah menyerang salah seorang anak di Jakarta Selatan pada tahun 2004. Saat itu, satu sekolah asing terpaksa diliburkan dan diisolasi untuk mencegah meluasnya penyebaran penyakit tersebut (Kompas, 18 April). Kasus flu singapura kembali muncul tahun 2007 dan menyerang anak di Jakarta Timur (Kompas, 5/9). Anas mengimbau, warga harus waspada terhadap penyakit flu Singapura yang terjadi di Jakarta pada bulan Februari dan Maret serta saat ini sudah menjangkiti beberapa warga Depok, Jawa Barat. “Penyakit menular melalui kontak langsung, batuk, urine, dan feces ini banyak menyerang bayi dan anak-anak. Penularannya sangat cepat. Namun, penyakit ini tidak mematikan,” kata Anas di Jakarta Media Center, Jakarta Pusat, Rabu (15/4). Namun dalam kasus flu Singapura, si penderita mengalami sariawan, bibirnya pecah-pecah, lidah dan tenggorokannya meradang. Selain itu, pada kulit si penderita terdapat bercak lebar-lebar warna merah. Menurut Anas, penyakit flu Singapura dibawa masuk oleh mereka yang masuk ke Indonesia setelah berpergian atau berlibur dari luar negeri. Masa inkubasi selama tujuh hari. Penyakit ini dengan cepat menular melalui udara, percikan air liur, urine, feses, dan bersentuhan langsung dengan penderita. “Jika ada warga yang mengalami gejalan-gejala tersebut segeralah mendatangi puskesmas atau dokter agar segera diambil tindakan,” tandas Anas.

Puskesmas

Kepala Suku Dinas Kesehatan Masyarakat (Sudin Kesmas) Jakarta Pusat Hakim Siregar mengimbau, seluruh puskesmas di Jakarta Pusat harus mewaspadai penyebaran penyakit itu. Jika ada warga di satu wilayah yang suspect, kata Hakim, petugas kesehatan dari puskesmas diminta langsung mengambil tindakan cepat mengirim tenaga medis untuk memastikan. Jika sudah pasti, langsung melokalisir daerah tersebut untuk memastikan virus tak menyebar. Hakim mengatakan, hingga kini pihaknya terus melakukan koordinasi dan melakukan deteksi dini dengan Dinkes DKI Jakarta guna mencegah masuknya penyakit ini ke wilayah Ibukota. Hakim memastikan, tindakan preventif selalu dilakukan sehingga penyakit flu Singapura belum pernah ditemukan kasusnya di Jakarta Pusat. Karena itu, pihaknya menghimbau kepada masyarakat jika mengalami gejala-gejala penyakit mirip flu Singapura, maka segera periksa ke Puskesmas terdekat untuk secepatnya diambil tindakan.(kompas.com)

Entry filed under: Dalam Negeri. Tags: .

Bayi Membatu 24 Tahun di Perut Ibu Golkar Enggan Terpancing ‘Dramatisasi’ Partai Lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Translater

Kalender

April 2009
S S R K J S M
    Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Arsip

Waktu Sekarang

Ranking Blog

Peta Pengunjung


%d blogger menyukai ini: