Lagi-lagi Hercules, Jagoan yang Uzur, Celaka

22/05/2009 at 11:24 pm Tinggalkan komentar

0959447pWaduuh …… sudah lebih 4 hari nih ngga’ posting, bahkan sekedar ngunjungin, rasanya lama sekali. Karna kesibukan nich Toto baru bisa posting hari ini, kayaknya belum basi dech kalau tulis berita soal peristiwa jatuhnya pesawat Hercules. Memang sih kejadiannya sudah hari Rabu (20/5) yang lalu, tapi tak apalah lebih baik terlambat daripada ngga’ nerbitin sama sekali.

Ujian nampaknya belum selesai diberikan oleh Allah buat bangsa ini. Mungkin terlalu sulit soalnya (ujian nasional kali…) hingga harus diulang-ulang. Sudah puluhan kali, mulai dari gelombang tsunami, luapan lumpur Lapindo, gempa bumi di Papua, NTT, Jogja, Banyuwangi, jebolnya Situ Gintung, dan lain-lain (kalau kurang tambahi sendiri ya…) secara beruntun sampai pada musibah jatuhnya pesawat Hercules C-130 dengan nomor penerbangan A-1325 di Desa Geplak, Magetan, Jawa Timur.

Mungkin juga teguran Allah buat kita supaya kita segera muhasabah, refleksi, introspeksi, mengingat-ingat kembali kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan, yang pemimpin bangsa ini lakukan, atau yang bangsa ini secara kolektif telah perbuat, untuk kemudian segera menyadari dan kembali kepada tuntunan Allah.

Sebenarnya bangsa orang-orang Indonesia, menurut Toto, adalah orang-orang yang cerdas. Tapi sayang, tidak pernah mau belajar atas kejadian masa lalu. Kelalaian manusia adalah faktor utama penyebab kecelakaan tersebut.

Kecelakaan yang melibatkan pesawat buatan AS tahun1953 ini disinyalir disebabkan kondisi pesawat yang sudah tua. Menurut anggota Komisi I (bidang pertahanan dan luar negeri)  DPR RI Dr Yuddy Chrisnandi, peristiwa jatuhnya pesawat Hercules TNI AU merupakan konsekuensi penggunaan alat utama sistem persenjataan (Alutsista) yang sudah tua serta ketidakcukupan biaya perawatan.

Masih menurut Yuddy, tiga hal yang menjadi faktor peristiwa jatuhnya Hercules C-103 adalah karena umur alutsista tua, minimnya anggaran perawatan dan adanya kemungkinan suku cadang pesawat yang disunat.

Meskipun dikatakan pesawat Hercules C- 130 yang masuk jajaran TNI AU tahun 1994 ini kondisinya layak terbang karena telah mengalami perawatan terakhir pada 19 Mei 2009, namun kenyataannya mengalami kecelakaan.

Sebagai seorang mulsim sudah kewajiban kita untuk percaya akan takdir. Akan tetapi ikhtiar dan hati-hati adalah syarat seseorang disebut sebagai orang beriman dan bertaqwa. Biarpun dikatakan masih layak terbang, tapi kalau sudah kakek-kakek ya sudah pasti berat untuk bekerja, apalagi dengan beban (penumpang) yang banyak (meski normal untuk ukuran pesawat baru).

Kecelakaan yang melibatkan pesawat Hercules, sebenarnya bukan kali pertama. Dari data menyebutkan bahwa pesawat Hercules, dimana Indonesia merupakan negara kedua, setelah AS, negara pembuatnya, pernah beberapa kali mengalami masalah.

Pada tanggal 17 Agustus 1988, Hercules C-130 yang ditumpangi Muhammad Zia-ul-Haq, Presiden Pakistan waktu itu, jatuh setelah lepas landas. Sang presiden serta Duta Besar dan Jenderal Amerika Serikat turut meninggal, bersama dengan orang lain yang berada dalam pesawat tersebut.

Kemudian Hercules TNI AU jatuh di daerah Condet Jakarta, sekitar 150 prajurit Pasukan Khas (Paskhas) TNI AU Gugur karena kecelakaan ini.

Selanjutnya tanggal 11 Mei 2009, Pesawat Hercules C-130B mengalami kecelakaan di Wamena, ibukota Kabupaten Jayawijaya, Papua. Roda depan pesawat terlepas sehingga mengakibatnya satu orang luka-luka akibat terkena lontaran roda tersebut. Dan kemudian terakhir adalah kecelakaan yang terjadi di Magetan.

Meskipun pesawat Hercules yang dimiliki TNI AU saat ini rata-rata sudah berusia uzur, namun pihak berwenang sepertinya belum juga memerintahkan untuk meng-graounded (tidak menerbangkan) jenis pesawat ini.

“Hingga saat ini, belum ada perintah untuk meng-grounded Hercules. Buktinya, pesawat Hercules kami, 1315 dan 1312, yang ada di sini sedang melakukan kegiatan operasi,” ujar Ida Bagus Anom sebelum memimpin upacara pemakaman jenazah Serka Agus Indra Kurniawan, anggota skuadron 31 Halim Perdanakusuma, Jakarta, yang turut menjadi korban jatuhnya pesawat Hercules C-130 pada Rabu lalu. Menurutnya, kebijakan melakukan grounded pesawat murni kewenangan pimpinan TNI AU.

Pesawat Hercules pertama kali dimiliki oleh Indonesia tahun 1960 sebagai hadiah dari Presiden AS John F Kennedy atas pembebasan pilot Allen Pope, kepada Presiden RI, Soekarno. Indonesia merupakan pengguna pertama C130 B di luar AS. Sebanyak sepuluh pesawat C-130B kemudian didatangkan dari AS. Kesepuluh pesawat C130B (termasuk dua varian tanker KC 130B) ini menjadi embrio lahirnya Skadron Angkut Berat Jarak Jauh TNI AU. Saat ini Indonesia masih memiliki 27 unit pesawat Hercules.

Data Teknis Pesawat

Jenis Pesawat: Hercules C-130

Tile Number: C-130/ A-1325

Kesatuan: Skuadron Udara 31

Misi: Penerbangan Angkutan Udara Militer (PAUM) 233

Rute Penerbangan: Halim-Iswahjudi-Hassanuddin-Woltermongonsidi-Patimura-Biak

Awak pesawat:

1) Mayor Pnb Danu Setiawan

2) Kapten Pnb M. Firdaus Younan

3) Lettu Pnb Ferdinan Liberzani P

4) Kapten Nav Arief Permadi (Nav)

5) Lettu Lek Oman Sunantri(Rtu)

6) Kapten Tek Sujito(Jmu)

7) Peltu Suhartono

8) Praka Heru M

9) Lettu Tek Apo SM (LM)

10) Pelda M. Rohim

11) Serka Agus Indra

Penumpang: 111 orang termasuk awak

Kondisi pesawat: terbakar

Cuaca saat kejadian: cerah

Korban: 102 orang penumpang, dua warga setempat meninggal, dan 15 orang penumpang hidup

Data Teknis Umum:

Type: L-100-30

Penggunaan: Angkut Berat, pasukan, barang

Pabrik: Lockheed AC. Co. Georgia USA

Motor: Allison 501 – D 22 A, empat buah Turbo Prop

Kemampuan Muat Awak Pesawat: sembilan orang, minimal empat orang

Penumpang: Pasukan 128 orang, pasukan para 92 orang, tandu 97 buah/perawat empat orang.

Daya Angkut: 51,0007 LBS (23137 kg)

VIP: 105 orang

Kemampuan Terbang:

Lepas Landas: 5.050 feet

Pendaratan: 2.450 feet

Kecepatan Maksimum: 361 MPH (581 Km/ jam)

Jarak Jelajah: 2.090 mil (3.362 km)

Tinggi Terbang: 3.2600 feet

Lama Terbang: 10 jam

Sumber: Dinas Penerangan Markas Besar TNI Angkatan Udara.

Profil Hercules C-130

Lockheed C-130 Hercules adalah sebuah pesawat terbang bermesin empat turboprop yang bertugas sebagai pengangkat udara taktikal utama untuk pasukan militer di banyak bagian dunia.

Mampu mendarat dan lepas landas dari runway yang pendek atau tidak disiapkan, awalnya dia adalah sebuah pengangkut tentara dan pesawat kargo yang sekarang ini juga digunakan untuk berbagai macam peran, termasuk infantri airborne, pengamatan cuaca, pengisian bahan bakar di udara, pemadam kebakaran udara, dan ambulans udara.

Sekarang ini ada lebih dari 40 model Hercules, termasuk beberapa kapal senapan, dan juga digunakan di lebih dari 50 negara. Melayani lebih dari 50 tahun, keluarga C-130 telah menciptakan rekor yang bagus untuk kehandalan dan daya tahannya, berpartisipasi dalam militer, sipil, dan bantuan kemanusiaan.

Keluarga C-130 memiliki sejarah produksi yang paling panjang dari seluruh pesawat militer. Yang pertama prototipe YC-130 terbang pada 23 Agustus 1954 dari pabrik Lockheed di Burbank, California, Amerika Serikat.

Pesawat tersebut dipiloti oleh Stanley Beltz dan Roy Wimmer. Setelah kedua prototipe selesai, produksi dipindahkan ke Marietta, Georgia, di mana lebih dari 2.000 C-130 dibuat.

Versi sipil
Versi sipil dari C-130 Hercules adalah Lockheed L-100 Hercules. Merpati Nusantara Airlines tercatat pernah mengoperasikan pesawat jenis L-100-30, perbedaan utama dengan versi militer adalah mesin yang lebih lemah, jendela yang lebih banyak, dan dihilangkannya pintu besar di belakang badan pesawat.

Di kemudian hari, L-100 Merpati dihibahkan kepada TNI AU untuk melengkapi armada Hercules di skadron udara 17 dan 31 yang berkedudukan di Halim, Jakarta.

Selain Indonesia, beberapa negara juga menggunakan versi sipil dari Hercules ini, bahkan beberapa negara seperti Aljazair, Kuwait, dan Gabon menggunakan L-100 untuk kepentingan militer mereka. Total hanya 114 L-100 yang terjual, produksi terakhir terjadi pada tahun 1992.

Di kemudian hari, L-100 dikembangkan menjadi L-100J yang ekuivalen dengan C-130J lengkap dengan mesin turboprop canggih Rolls-Royce (Allison) AE-2100D3, baling-baling enam bilah, dan EFIS dua kru, tetapi program ini dibatalkan pada tahun 2000 karena Lockheed ingin fokus di versi militer saja.

Varian L-100:
L-100 (sekelas C-130E)
L-100-20 (badan pesawat diperpanjang 8,3 kaki)
L-100-30 (badan pesawat diperpanjang 15 kaki, merupakan versi terlaris)
L-100J (dibatalkan)

Jika kecelakaan dan musibah-musibah lain yang dialami oleh bangsa Indonesia ini akibat kesengajaan (sudah tau salah tapi tetap dilakukan), bukan tidak mungkin ini adalah laknat dan hukuman dari Allah swt.

Entry filed under: Dalam Negeri. Tags: , , , , , , , .

[Yvonne Ridley] Mengenal Islam dari Taliban Muslim di Eropa Lebih Setia pada Negara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Translater

Kalender

Mei 2009
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Arsip

Waktu Sekarang

Ranking Blog

Peta Pengunjung


%d blogger menyukai ini: