Ada Apa dengan Omni International Hospital?

04/06/2009 at 10:18 pm 8 komentar

pritanangisGeger berita kasus Prita Mulyasari meggugah para blogger untuk mendukung upaya dan langkah-langkah hukum agar dibebaskan dari LP Wanita Tangerang.

Sumber kompas.com menuliskan, kasus ini bermula ketika Ny. Prita menyampaikan keluhan mengenai pelayanan RS Omni International yang dimuat pada surat terbuka ke costumer@banksinarmas.com. Tulisan yang dimuat dalam milis mengenai keinginan Prita untuk mendapatkan catatan trombosit yang sebenarnya tak sulit itu menyebar di internet sehingga menjadikan dia digugat oleh RS Omni.

Prita Mulyasari dijerat dengan Pasal 27 UU 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Tulisan Prita dianggap telah merugikan dan mencemarkan nama baik Omni International Hospital maupun dokter Hengky Gozal dan dokter Grace Hilza. Menurut Kuasa Hukum RS Omni, Heribertus Hartojo, tulisan Prita tidak berdasar pada fakta dan bukti. “Itu dibuat tanpa fakta dan bukti yang sah menurut hukum,” terang Heri.

Heribertus menambahkan, penggunaan UU ITE untuk menjerat Prita tidak menyalahi aturan karena yang menjadi pelapor adalah dr Hengky dan dr Grace dan bukan institusi sebagai subjek pelapor.

Prita digugat secara perdata oleh RS Omni, dr Hengky dan dr Grace. Sedangkan secara pidana digugat oleh dr Hengky dan dr Grace. Secara perdata, Prita diganjar hukuman membayar kerugian materiil Rp 161 juta dan imateriil Rp 100 juta. Sedangkan sidang pidana dilakukan pada 4 Juni.

Adanya banyak dukungan kepada Prita Mulyasari dari para blogger dan berbagai pihak termasuk presiden sendiri membuat RS Omni berkeinginan mencabut gugatanya. Pihak RS siap mencabut gugatannya terhadap Prita Mulyasari dengan dua syarat. Salah satu syarat adalah Prita tak lagi meminta catatan medis terkait hasil lab trombositnya yang berjumlah 27.000.

“Kita menunggu (untuk mencabut gugatan), kalau Ibu Prita tidak lagi meminta 27.000 itu dan juga kalau Ibu Prita mengakui kesalahannya,” ujar kuasa hukum RS Omni International, Heribertus Hartojo, di RS Omni International Alam Sutra, di kawasan Serpong, Tangerang, Rabu (3/6/2009).

“Karena itu ada pidananya, ada dokter Hengky dan dokter Grace sebagai subjeknya,” ujar Heri.

Dari kasus tersebut sebenarnya Toto tuh masih bingung, kenapa hanya catatan trombosit hasil lab yang berjumlah 27.000 yang diajukan sebagai syarat pencabutan gugatan RS Omni terhadap Prita.

Sebagai orang awam Toto ngga’ ngerti soal itu, apa mungkin ini termasuk kode etik kedokteran dimana catatan medis seorang pasien harus dirahasiakan. Atau justru pelanggaran kode etik jika menyembunyikan catatan medis. Tapi waktu Toto check kesehatan semua cataan medis diberitahu loh oleh pihak RS.

Sebagai catatan, indikasi seseorang suspect demam berdarah adalah jika trombosit kurang dari 150.000, jika trombosit 150.000 atau lebih berarti tidak ada alasan seseorang menjalani rawat inap. Yang menjadi pertanyaan kemudian, mengapa dokter tidak memberikan catatan medisnya kepada Ibu Prita?

Ada apa ya dengan Omni International Hospital?

Yang jelas sebagai sesama blogger Toto sangat mendukung dibebaskannya Ibu Prita, demi tegaknya hukum dan kedilan di negeri ini!!!!

Iklan

Entry filed under: Dalam Negeri. Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Manfaat Virgin Coconut Oil [Foto-foto] Manohara Pernah Diperkosa Fakhry Sebelum Nikah ?

8 Komentar Add your own

  • 1. malu  |  05/06/2009 pukul 7:48 pm

    yah,,, dah jelas dari JADUL ampe sekarang SEMUA DOKTER ee ee salah maksud saya… ada dokter yang masih uji coba…. yah bersiaplah jadi MANUSIA PERCOBAAN ..

    Balas
    • 2. sunartoedris  |  05/06/2009 pukul 7:56 pm

      masyarakat kita memang masih banyak yang suka “trial and error”, jd error terus!!!

      Balas
  • 3. Daranuri Prihatiningtyas  |  05/06/2009 pukul 10:22 pm

    RS OMNI Iternational Alam Sutera Juga Menggugat Almarhum Pasien….
    KOMPAS, Jumat, 5 Juni 2009 (halaman 25)  Kasus lain juga terjadi. Akhir tahun lalu PT Sarana Meditama Metropolitan (yang mengelola RS Omni Internasional) juga melayangkan gugatan terhadap salah satu pasiennya karena alasan pembayaran tagihan. Pihak keluarga pasien belum membayar tagihan biaya perawatan karena menilai nilai tagihan tak wajar.
    Pada Kamis kemarin, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menggelar sidang gugatan itu. Sedianya, sidang diisi dengan pembacaan putusan. Namun, Ketua Majelis Hakim Reno Listowo menunda pembacaan putusan karena terdapat pergantian hakim.
    Kasus itu bermula ketika Abdullah Anggawie (almarhum) masuk ke RS Omni Medical Center (OMC), Pulo Mas, Jakarta Timur, pada 3 Mei 2007. Abdullah dirawat selama lebih kurang tiga bulan sampai akhirnya meninggal pada 5 Agustus 2007.
    Saat meninggal, pihak RS mencatat masih ada tagihan sebesar Rp 427,268 juta. Total biaya perawatan selama tiga bulan mencapai Rp 552,268 juta. Pihak keluarga telah membayar uang muka Rp 125 juta sehingga tagihan tersisa Rp 427,268 juta.
    Pada 24 November 2008, PT Sarana Meditama Metropolitan mengajukan gugatan kepada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Gugatan dilayangkan kepada Tiem F Anggawi, PT Sinar Supra Internasional, yang berperan sebagai penjamin berdasarkan surat jaminan 28 Juni 2007, dan Joesoef Faisal yang bertindak sebagai penanggung jawab perawatan pasien Abdullah di RS.
    Kuasa hukum pasien, Sri Puji Astuti, mengatakan, pihaknya sebenarnya bukan tidak bersedia membayar tagihan. Namun, pihaknya meminta RS mengeluarkan resume biaya dan rekam medis milik pasien terlebih dahulu. Namun, hingga kini rekam medis tersebut tidak diberikan.
    ”Sampai sekarang keluarga tidak tahu sakitnya apa. Selama tiga bulan perawatan itu pun tidak diberi tahu,” ujar Sri Puji Astuti. (silahkan klik : http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/06/05/03230421/menkes.lapor.ke.jalur.yang.benar).

    Balas
    • 4. sunartoedris  |  05/06/2009 pukul 10:30 pm

      bisa nambah jd barang bukti nih!

      Balas
  • 5. Ono Gosip  |  09/06/2009 pukul 9:48 am

    BREAKING NEWS !!!
    TANGGAPAN KEJATI BANTEN ATAS PEMERIKSAAN JAKSA YANG MENUNTUT PRITRA:
    “Kita tidak berbicara siapa yang akan kemudian bertanggung jawab terhadap pembuatan …(BAP),yang penting, tapi siapa yang harus bertanggung jawab mereka yang melakukan tindakan pidana (PRITA). Saya berikan apresiasi kepada jaksa tersebut!!”

    Balas
  • 6. omiyan  |  10/06/2009 pukul 10:19 am

    semoga Ibu Prita menang dan bebas serta menuntut balik RS Omni

    semoga jadi pelajaran buat ktia semua

    Balas
  • 7. kusuma  |  12/06/2009 pukul 1:48 pm

    Selamat deh buat rumah sakit OMNI,
    Trus terang saya tidak tahu apa motif anda menuntut pasien anda sampai kepenjara, semoga saja alasannya bukan karena anda butuh uang. selamat Anda sukses menjalankan NIghtmare marketing.
    seharusnya masalah seperti ini tidak perlulah diblow up. atau jangan2 gak sengaja keblow up.yang seharusnya complain costumer ditangani baik2 lah.

    Balas
  • 8. bahtiyarzulal  |  17/06/2009 pukul 11:43 pm

    Tahu gak, Apa yang paling merusak dalam sitem yang ada di Negara kita..?, Yaitu banyaknya orang goblok yang menduduki jabatan ‘pengambil kebijakan..!’, Mana punya orang macem itu “HATI NURANI” dalam benaknya hanyaa ada duit…duit…dan duit..!
    Kalau yang lagi kesandung masalah orang kecil, Mereka akan teriak dengan suara kenceng…Hukum harus di tegakkan…!, Tapi jika yang kena masalah orang gede mereka bilang… kita harus menjunjung azas praduga tak (PERNAH) bersalah…!!!, ini namanya jaman eddann kali…tul gak?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Translater

Kalender

Juni 2009
S S R K J S M
« Mei   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Arsip

Waktu Sekarang

Ranking Blog

Peta Pengunjung


%d blogger menyukai ini: