Amanah

b4719f34-20db-4ddb-b3c2-2120bc7b172a Tak ada yang menyangkal bahwa, jika seseorang meminjam barang kepada kita kemudian pada saat barang tersebut dikembalikan ternyata dalam keadaan cacat (tidak seperti sedia kala), lantas kita marah kepada orang tersebut. Tentunya kita juga sepakat bahwa anak adalah titipan Allah SWT yang hanya dipinjamkan kepada kita. Barang (anak) yang telah dipinjamkan tersebut tentu nya harus kita rawat dan jaga sebaik-baiknya sehingga suatu saat ketika Yang Empunya mengambil kembali, maka barang tersebut masih dalam keadaan seperti semula atau bahkan lebih baik lagi. Suatu ketika seorang ibu dipanggil ke sekolah karena pihak sekolah ingin memberikan informasi bahwa anaknya seringkali membuat masalah. Si ibu tadi kontan menangis sambil menceritakan panjang lebar perihal anaknya. Si ibu mengatakan bahwa mereka (ia dan suaminya) tidak sanggup lagi mendidik anaknya dan memasrahkan semuanya kepada pihak sekolah. Mau dipukul atau diapakan terserah sekolah, bahkan sempat keluar kata-kata yang tidak seharusnya terucap dari mulut seorang ibu yang nota bene adalah yang telah mengandung dan melahirkannya. “Mau saya racun saja anak saya itu”, begitu katanya. Ini adalah sebuah gambaran seseorang yang gagal dalam menjalani kehidupannya, membina rumah tangga khususnya dalam mendidik anak. Seorang ibu tadi bukanlah tidak berpendidikan,bukan pula orang yang tidak paham terhadap agama. Bukan. Ia adalah seorang guru, bahkan guru agama di sebuah sekolah agama. Na’uzubillahi minzdalik. Membaca cerita tersebut lantas dalam hati kita berkata, “Seorang guru agama saja tidak mampu mendidik anaknya, lalu bagaimana dengan kita yang bukan guru agama?” Pertanyaaan itu wajar kita lontarkan mengingat bagaimana kita melihat fenomena pergaulan dan perilaku anak-anak remaja sekarang. Anak-anak sekarang lebih suka mendengarkan teman-temannya daripada nasehat kita, lebih suka berkeluh kesah (curhat) kepada teman-temannya daripada mengadu kepada kita, lebih suka mencontoh apa yang biasa ditayangkan di televisi daripada mencontoh perilaku kita. Kondisi ini semakin miris manakala kita sering mendapatkan gambar atau film porno yang ada pada HP mereka pada saat razia di sekolah. Lalu kita bertanya lagi, “Bisakah kita mengembalikan anak yang menjadi titipan dan amanah itu dalam keadaan baik sebagaimana yang dikehendaki Sang Empunya?” Anak memang adalah amanah yang betul-betul harus dijaga karena suatu saat di padang mahsar nanti kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Anak harus kita isi dengan pendidikan agama dan pemahaman-pemahaman lain sehingga mengarah kepada hal-hal yang positif. Tanpa disadari kita sering melakukan hal-hal yang membuat anak berani melawan orang tua dan berperilaku liar. Kita sering lupa bahwa perilaku anak-anak kita yang terlihat sekarang adalah buah dari kegagalan kita dalam memberikan tauladan bagi mereka. Sudah satnya kita untuk introspeksi diri, sudahkah kita bisa dijadikan contoh buat anak-anak kita. Kita sering menyuruh anak sholat sementara kita sendiri masih asyik dengan pekerjaan kita. Kita sering melarang anak kita merokok sementara kita menyuruh mereka untuk membelikan rokok dan dengan nikmatnya menghisap di hadapan mereka. Kita mau anak kita jujur namun tanpa kita sadari kita sering mengajari mereka berbohong Dan masih banyak lagi perilaku kita yang tidak bisa dijadikan tauladan untuk anak-anak kita, dan hal itu yang menjadikan mereka tidak menjadi anak yang penurut. Sebenarnya Allah SWT tidak menghendaki hasil dari upaya kita dalam mendidik anak. Allah hanya menilai proses dan upaya yang kita lakukan, sudahkah maksimalkah upaya yang kita lakukan dalam mendidik anak-anak kita. Jangan-jangan kita belum sepenuhnya mengerahkan tenaga kita dalam mendidik anak. Jangan-jangan kita hanya setengah hati dalam mendidik mereka. Atau jangan-jangan upaya kita salah sebagaimana yang telah diceritakan di atas. Atau jangan-jangan kita terlalu pasrah sehingga tidak ada upaya sambil menghibur diri dengan mengambil contoh riwayat nabi Nuh, “Nabi saja tidak bisa mendidik anaknya hingga menjadi durhaka, apalagi kita”. Sungguh itu adalah pernyataan konyol yang keluar dari bibir seorang murtad. Keputusasaan itu adalah bukan jalan Allah. Allah SWT sangat melaknat orang-orang yang putus asa dan hanya pasrah serta tidak ada upaya untuk mencapai keberhasilan. Jika ternyata upaya yang telah kita lakukan belum mendapatkan hasil yang kita inginkan, Allah SWT punya rencana lain yang terbaik untuk mmat-Nya sehingga kita perlu tawakkal. Dengan kata lain marilah kita para orang tua berupaya semaksimal mungkin, sekuat tenaga dalam mendidik anak-anak kita, mudah-mudahan Allah SWT meridhoi upaya yang sudah kita lakukan dan mencatatnya sebagai amalan kebaikan. Sedangkan hasil dari upaya kita itu menjadi urusan Allah SWT, manusia tidak berhak ikut campur dan tidak akan tahu apa sebenarnya rencana Allah SWT buat kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


%d blogger menyukai ini: